Tuesday, December 2, 2008

Opinion

CIVIL ISLAM DALAM PESONA KEKUASAAN
Oleh Abd A`la*
Kekuasaan ternyata nyaris serupa dengan gadis cantik sangat memikat yang hidup di istana. Ia mampu menebarkan pesona ke mana-mana sehingga setiap orang yang mengenalnya tergoda untuk mendekati, merangkul, dan ingin memilikinya. Saat rezim orde baru (orba) berkuasa, kekuasaan dipingit sedemikian rupa. Siapa pun –kecuali rezim dan lingkaran kelompok yang ada di sekitarnya –sulit dan tidak boleh mengencaninya.
Ketika orba ambruk, dan era reformasi tiba, kekuasaan berubah menjadi gadis centil yang mampu menyedot perhatian semua yang mengenalnya. Semuanya –yang sok alim, yang alim betulan, dan si hidung belang –ingin menjadikan “si gadis” sebagai bagian dari hidupnya meskipun dengan dorongan dan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin “menikahi”-nya dengan tujuan agar kekuasaan tidak binal lagi dan bisa menjadi “istri setia”, mendampingi sang “suami” dalam membangun rumah tangga bangsa yang lebih kokoh menuju kehidupan demokratis yang sejahtera.
Sementara yang lain begitu berhasrat untuk berhubungan intim dengan kekuasaan lebih dilatar-belakangi oleh syahwat politik yang menggelora. Dengan kekuasaan di tangan, mereka membayangkan suatu kehidupan yang penuh dengan prestise, dihormati setiap orang, dan bergelimang dengan fasilitas. Kelompok yang terakhir ini tampaknya adalah mayoritas. Sedangkan yang pertama hanya bak sebutir pasir di pantai lautan yang sangat luas.
Pesona yang sangat memikat itu merupakan unsur yang sama sekali tidak dapat diabaikan yang membuat banyak kelompok umat Islam terkesan harus bertekuk lutut di hadapan kekuasaan. Bahkan kelompok yang pada masa-masa sebelumnya tampak bisa menahan diri, cukup elegan, atau paling banter “sekadar” berkencan dengan melakukan cubitan sayang dan sejenisnya dan tidak mudah dipergoki dengan mata telanjang orang lain tiba-tiba tidak mampu menahan godaan untuk ikut meminang si gadis cantik yang bernama kekuasaan.
Masyarakat kaget dan terperangah. Masyarakat tidak percaya jika kelompok-kelompok Muslim yang selama ini menjaga jarak dengan kekuasaan, dan mendaku sebagai salah satu anak terbaik dari civil society, memiliki wawasan luas, dianggap teguh pendirian dan mandiri bisa menjadi anak yang tampak nakal dan manja serta mulai suka bermain mata dengan kekuasaan. Kekuasaan telah membuat satu persatu masyarakat sipil kehilangan anak-anak terbaiknya, termasuk civil Islam.
Masyarakat sipil mungkin tidak menduga sama sekali akan kehilangan anak-anak kesayangannya. Ketika telah hidup bersama dengan kekuasaan, kelompok-kelompok civil Islam itu sulit diharapkan lagi bisa hidup serumah dengan civil society. Sebab mereka telah menjadi bagian dari negara yang pekarangan dan segala perangkatnya berbeda dengan pekarangan yang dihuni masyarakat sipil.
Dalam sebuah rumah tangga bangsa yang demokratis, dua pekarangan yang berbeda itu –istana kekuasaan negara dan rumah rakyat –seharusnya sama-sama berdiri secara kokoh. Hilang atau rapuhnya salah satu dua komponen itu akan mengakibatkan terganggunya eko-sistem politik yang dapat berdampak jauh pada terjadinya pemanasan iklim politik yang tidak kondusif.
Dengan demikian, kedua domain itu perlu diurus secara serius, intens, dan tidak asal-asalan oleh penghuninya masing-masing. “Istana negara” memang penuh dengan tarikan dan pesona yang cukup menggoda, dan terkadang cukup genit sehingga membuat terpikat penghuni yang diam di rumah rakyat. Tanpa “iman” yang kokoh, visi dan misi kerakyatan yang kuat, masyarakat sipil cenderung ramai-ramai ingin hidup di istana dan berkencan dengan kekuasaan.
Fenomena semacam itu yang sedang menggejala dalam kehidupan politik Indonesia. Terlepas dari motivasi yang melatar-belakangi atau tujuan yang ingin dicapai, passion politique yang sedang menggelora dalam hati anak-anak masyarakat sipil untuk bermain mata dengan kekuasaan, apalagi sampai pindah ke “istana kekuasaan negara” dipastikan akan membuat rumah rakyat kosong dan tidak terpelihara. Lamban namun pasti, pembiaran itu akan membuat lapuk dan goyah tiang-tiang yang menyangga masyarakat sipil, jika tidak ambruk. Hancurnya masyarakat sipil berarti hancurnya rumah tangga bangsa dalam arti yang sebenar-benarnya.
Karena itu, kita tidak bisa membiarkan rumah rakyat kosong melompong akibat anak-anaknya asyik berpacaran dengan kekuasaan, menikahinya dan pindah ke “istana negara”. Alasan apa pun yang ingin diangkat kelompok-kelompok umat Islam tidak akan pernah bernilai strategis untuk masa depan Islam, umatnya, civil society, dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ketergodaan civil Islam kepada kekuasaan akan membuat umat Islam hanya ber-asyik-masyuk dengan pemuasan semacam ambisi dan sejenisnya, serta berpeluang besar untuk lupa untuk mengurus rumahnya sendiri.
Kekuasaan laksana gadis centil yang sulit ditaklukkan. Niat kelompok Muslim bisa saja suci dalam rangka memberikan nilai-nilai Islam terhadap kekuasaan. Namun niat itu bisa saja tidak terlaksana. Si gadis cantik hanya mampu pakai jilbab, mau berpuasa, dan solat, tapi sikap dan perilakunya tetap suka menggoda dan main mata dengan siapa saja yang menemuinya. Bahkan kemungkinan besar, bukan gadis itu yang bertekuk lutut, tapi mereka yang tergoda bersimpuh di hadapan kekuasaan. Na`udzubillah©

No comments: